Mungkin saat ini aku hanya butuh melihat matamu,
untuk mencariku di hatimu,
atau beri aku isyarat agar aku bisa membaca cara untuk mematahkan
hatiku sendiri.
Karena tahukah rasanya menjadi penduga itu?
Aku terasa
seperti melakoni pemeran antagonis di hidupmu.
Terlalu jahat..
Dan aku menyayangimu,
Namun jika aku tidak bisa bahagiakanmu,
akankah kau membiarkanku sejahat ini?
Maksudku, ijinkanlah aku melihat kau bahagia,,
Agar aku tak lagi serapuh kapas yang hanyut ditelan rasa bersalah,
Agar ku tahu ke mana langkahku semestinya menapak.
Sebentar aku percaya, sebentarnya lagi termenung merenungi diri sendiri,
Astaga,,
bagaimana bisa aku begitu percaya diri memintamu berjalan bersamaku?
Aku masih teronggok disini, didepan pintu langit yang tak kunjung terbuka.
Membawa gumpalan doa yang kian tua untuk ditukarkan dengan mimpi walau hanya secuil,
Ya hanya secuil mimpi.
Kumohon walaupun hanya secuil. ijinkan aku merasakannya
Aku tak ingin memikirkan prasangka-prasangka yang tak benar,
tetapi ku
mohon katakan padaku bagaimana akan ku jelaskan pada hatiku,
saat aku
merasa bersalah telah pernah hadir dan menjadi duka di hidupmu.
Bagaimana mungkin aku sejahat ini, jika di kurun waktu lalu,,
Kaulah yang telah banyak
membahagiakanku,
aku bahkan sedikitpun tak memahami isyarat-isyaratmu,
aku
lupa dan hanya larut dalam bahagiaku sendiri.
Dan di benakku, hanya ada
keegoisanku tentang kamu yang harus selalu ada
Jangan lagi tahan kata yang bisa menenangkan hatimu,
biar pun nanti
harus kau gores luka di hatiku.
Cinta selayaknya penerimaan bukan?
Sepedih apapun jawaban cintamu, akan selalu ada pengertian dari hati
yang mencintaimu.
Menggoreskan rasa kecewa,
Dan mengguratkan luka dihati….
Maafkan aku,,
Tidak ada komentar:
Posting Komentar