Kamu pernah menjadi bagian hari-hariku, walau tak benar-benar tinggal,
Setiap malam, sebelum tidur,
kuhabiskan beberapa menit untuk membaca status-status media sosialmu.
Status lucu dan bahagiamu selalu membuatku tersenyum
diam-diam.
Perasaan ini sangat dalam, sehingga aku memilih untuk
memendam.
Salahku,,
Aku salah sudah berharap lebih.
Salah ketika kugantungkan harapanku padamu.
Kuberikan
sepenuhnya perhatianku untukmu.
Aku salah..
Kamu di sampingku,,
Tapi getaran yang kuciptakan seakan tak
benar-benar kau rasakan.
Kamu berada di dekatku, namun segala perhatianku
seperti menguap tak berbekas.
Apakah kamu benar tidak memikirkan aku?
Mungkin perjuanganku terhenti karena aku merasa bagai abu rokok yang hilang disapu pagi,
Aku tak ingin perkenalan kita terjadi.
Aku tak ingin melihat senyummu setiap pagi.
Aku tak ingin mendengar suaramu yang mendinginkan hati
Aku tak ingin membaca pesan singkatmu yang lugu
tapi manis.
Sungguh, aku tak ingin segala hal manis itu terjadi.
Ini adalah kesalahan,
Kesalahan yang terlanjur mengalir begitu saja,
Bagai bulir-bulir busa yang mengikuti arus ke telaga,,
Aku harus bagaimana?
Aku menulis ini ketika mulutku tak mampu lagi berkeluh.
Aku mengingatmu
sebagai sosok yang pernah hadir, meskipun tak pernah benar-benar
tinggal.
Mimpiku,,
Seandainya kautahu perasaanku dan bisa membaca keajaiban dalam
perjuanganku,
Mungkin kamu akan berbalik arah dan memilihku sebagai tujuan.
Tapi, aku hanya persinggahan, tempatmu meletakan segala kecemasan, lalu
pergi tanpa janji untuk pulang.
Karna kau tahu ini adalah sebuah kesalahan.
Kamu tak bisa. Tentu saja.
Aku yang salah telah bermimpi..
Dan maaf aku telah menyayangimu lebih,,
Tidak ada komentar:
Posting Komentar