Rabu, 03 Agustus 2016

Aku harus bagaimana?

Kamu pernah menjadi bagian hari-hariku, walau tak benar-benar tinggal,
Setiap malam, sebelum tidur, kuhabiskan beberapa menit untuk membaca status-status media sosialmu.
Status lucu dan bahagiamu selalu membuatku tersenyum diam-diam.
Perasaan ini sangat dalam, sehingga aku memilih untuk memendam.

Salahku,,
Aku salah sudah berharap lebih.
Salah ketika kugantungkan harapanku padamu.
Kuberikan sepenuhnya perhatianku untukmu.
Aku salah..

Kamu di sampingku,,
Tapi getaran yang kuciptakan seakan tak benar-benar kau rasakan.
Kamu berada di dekatku, namun segala perhatianku seperti menguap tak berbekas.
Apakah kamu benar tidak memikirkan aku?

Mungkin perjuanganku terhenti karena aku merasa bagai abu rokok yang hilang disapu pagi,
Aku tak ingin perkenalan kita terjadi.
Aku tak ingin melihat senyummu setiap pagi.
Aku tak ingin mendengar suaramu yang mendinginkan hati
Aku tak ingin membaca pesan singkatmu yang lugu tapi manis.
Sungguh, aku tak ingin segala hal manis itu terjadi.

Ini adalah kesalahan,
Kesalahan yang terlanjur mengalir begitu saja,
Bagai bulir-bulir busa yang mengikuti arus ke telaga,,

Aku harus bagaimana?
Aku menulis ini ketika mulutku tak mampu lagi berkeluh.
Aku mengingatmu sebagai sosok yang pernah hadir, meskipun tak pernah benar-benar tinggal.

Mimpiku,,
Seandainya kautahu perasaanku dan bisa membaca keajaiban dalam perjuanganku,
Mungkin kamu akan berbalik arah dan memilihku sebagai tujuan.
Tapi, aku hanya persinggahan, tempatmu meletakan segala kecemasan, lalu pergi tanpa janji untuk pulang.
Karna kau tahu ini adalah sebuah kesalahan.

Kamu tak bisa. Tentu saja.
Aku yang salah telah bermimpi..
Dan maaf aku telah menyayangimu lebih,,


Tidak ada komentar:

Posting Komentar